Karsamaya

Lingkar Sastra ITB di Dunia Maya

Semalaman aku tidur di karang
kubilang aku baru berenang
di lautan nestapa, rindu dan haru
seperti kekasih yang lama tak bertemu,
bercumbu
berenang aku di tengah badai rintihan
walau sudah tua dan mulai layu,
namun aku masih perkasa

semalaman aku tidur dikarang
bersama sebilah mimpi tentang dirimu
berhias sesendok airmata kenikmatan, tangisan syukur
seperti kekasih yang lama tak bertemu
karena rantau
ditinggal menggalau

semalaman aku tidur dikarang
memimpikan bulanmu, matamu
terang bersama pelangi seusai badai
melihat ranggas hatimu, digerogoti rindu

semalaman aku tidur dikarang
kelelahan
setalah kubuat karang yang tidak besar
hanya kubilang
semalaman aku tidur di karang

ruangan ini seperempat terang
oleh segelas api yang lembut dan wangi
seperdelapan berisik
oleh teriakan kayu melawan lantai,
dan desir nafas sepasang makhluk di atasnya

tubuhku sepertigapuluhdua kedinginan
karena sepasang bahu dan sepasang telapak kaki yang tak terbalut
dan delapanpersepuluh kuyup
akibat panas tubuh yang terisolasi selimut, dan friksi dengan kulit yang bukan milikku
kontradiktif sungguhnya, karena kuyup menihilkan friksi

satu, dua, tiga, banyak lagi
sepasang ruang hidungku menggapai aroma
mawar,
sepasang peluh,
feromon,
liur(?)

Mereka yang tidak tidur
menjadi mata-mata
seperti patah karang yang tidak tersadur
membentengi lirih Adipati Karna

mereka menjadi saksi
layu nestapa Bharatayuda,
akhir besar Pasopati,
dan kelu tangis para Kurawa

Ketika itu sebilah panah tertanam,
haru perkasa Astinapura menggaung
beriring ranggasnya lima nyawa;

mereka tetap tua, menahun.

Burung gagak merah

Menjelajah jejak-jejak palsu
Mencari burung gagak merah
Yang menggantung berselimut darah

Meretas sandi-sandi bermuka dua
Padahal wajah-wajah tenggelam telah lama berduka
Mencari burung gagak merah
Yang tersenyum bersambut amarah

Menggulung kaki-kaki ketamakan
Di antara ruang-ruang kemiskinan
Tapi esok hari tetap kan hitam, bisa optimis
Mencari burung gagak merah
Kian bergelantungan pasrah

[Flash 10 is required to watch video]

Video iklan Open House Unit Lingkar Sastra ITB. Seharusnya, sih, 30 detik, tapi aku super malas dan sedang tidak punya ide untuk sisa 4 koma sekian detik terakhir :)

Lukisan adalah sastra dalam warna-warni. Sastra adalah lukisan dalam bahasa.

Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer (via littlelessmore)

09.06.2011: Don’t Go, My Dark Passion!

Hari masih baru satu jam berganti, namun sudah ada saja sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku. Dari Mirza. Tumben sekali orang itu mengirim pesan singkat, pasti urusan Lingkar Sastra.

Benar saja, setelah kubuka, isi pesan singkatnya:

Brhubung sekre LS ga dipake lg, bentar lg sekrenya bakal dipake sm anak2 ITJazz.

Aku terdiam. Sekre kita itu seingatku bukan sekre kita sendiri, kita terpaksa menumpang bersama unit Student English Forum (SEF). Barang-barang yang ada di dalam pun, kebanyakan milik SEF. LS hanya menaruh beberapa properti penampilan dan sebuah karya instalasi yang gagal. Memang benar, kita hampir tidak pernah memakai sekre lagi setelah kejadian bocor satu setengah tahun yang lalu… tapi, bukan berarti kita sama sekali tidak akan memakainya.

Ada uang satu juta yang sudah setahun kusimpan di lemariku. Uang LS. Minggu lalu, rasanya aku baru menyebut-nyebut akan memakai uang itu untuk membangun sebuah sekre yang lebih layak. Aku dan Stany sudah merencanakan banyak sekali hal hebat. Nyaris seperti membuat sebuah kamar kosan untuk sekian belas orang tinggali bersama. Dan sekarang, segala rencana itu tinggal tulisan dan gambar di sketchbook-ku belaka. Aku meringis mengingatnya.

Setelah berbalas pesan singkat yang membuat perasaanku tambah kacau, aku kemudian mengirimkan kesedihanku ke beberapa anggota lainnya. Hanya ada dua orang yang membalasnya; Stany dan Bram. Hanya balasan dari Bram lah yang akhirnya membuatku sedikit lebih baik, jujur saja. Dia bilang, dengan anggota yang sedikit, kita tidak akan punya masalah dengan sekre. Toh, sejak anggota baru 2010 masuk, kita lebih sering berkumpul di PSIK, atau bahkan di tempat-tempat makan di luar kampus. Yang membingungkan hanyalah saat kamu disuruh menuliskan di mana lokasi sekre LS sekarang berada, untuk konten Buku Sakti PROKM 2011.

“Sekre Lingkar Sastra di mana? Tulis saja, ‘Hatimu’. Ah, tapi, nanti… apa kata para mahasiswa baru yang berniat mendaftar?” Stany memberiku ide, saat kami pergi ke Simpang Dago tadi pagi. Benar juga. Sekre itu ibaratnya sebuah rumah. Rumah itu apa? Rumah yang sebenarnya adalah, sebuah tempat di mana kamu bisa menemukan segala hal yang kamu suka. Kalau dipikirkan seperti itu, memang pantas kalau aku menuliskan ‘hatimu’ sebagai sekre LS yang baru. Aku menemukan banyak hal yang kusuka, bahkan hal-hal yang belum pernah kuketahui sebelumnya di LS… entah pula dengan orang lain.

Ah… aku masih bingung. Ya Tuhan, kalau memang LS baik dan memang berharga, berilah kekuatan agar ia tetap bertahan di ujung nyawanya yang hampir hilang ini.

Sentimentil? Memang, dan aku benar-benar sulit berpikir apapun seharian ini.

—Hanny Rizky Erwanda, PJS Lingkar Sastra ITB.

Senja Di Depan Kaca

Melamun telah menjadi teman
Teman berdiri di depan kaca
Menyapa kepada sepi

Sekilas ada bayang diri
Menggantung di sana
Bukan bayang bayi yang masih suci

Kotor dengan gurat sesal memori
Berkecamuk dalam diri demokrasi
Setiap suara yg saling menimpali

Semakin lama berdiri semakin akrab dengan sendiri
Kini melamun telah menjadi sahabat
Berdiri bersama di depan kaca

Menunggu matahari tinggi kian turun
Menjadi senja
Menadi latar indah

Katakan kalau sudah
Biar sampai disini saja
Persahabatan kita
Dan berlalu bersama senja
Senja di depan kaca

Tunggu Kami di Akhir Bulan Mei 2011!

Bila alam mengizinkan, Lingkar Sastra ITB akan bangkit kembali. Semoga bisa menjadi lebih hidup dan kembali menjadi pioneer sastra kampus di Bandung. Persiapkan karya terbaik kalian!

Kalau aku pengennya, suatu saat, LS bisa menjadi unit yang lebih kayak keluarga.

Dikdik Fazzarudin, ketua LS (2009-2010)

Semoga, kelak, keinginan ini dapat terwujud. Amin.