Hari masih baru satu jam berganti, namun sudah ada saja sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku. Dari Mirza. Tumben sekali orang itu mengirim pesan singkat, pasti urusan Lingkar Sastra.
Benar saja, setelah kubuka, isi pesan singkatnya:
Brhubung sekre LS ga dipake lg, bentar lg sekrenya bakal dipake sm anak2 ITJazz.
Aku terdiam. Sekre kita itu seingatku bukan sekre kita sendiri, kita terpaksa menumpang bersama unit Student English Forum (SEF). Barang-barang yang ada di dalam pun, kebanyakan milik SEF. LS hanya menaruh beberapa properti penampilan dan sebuah karya instalasi yang gagal. Memang benar, kita hampir tidak pernah memakai sekre lagi setelah kejadian bocor satu setengah tahun yang lalu… tapi, bukan berarti kita sama sekali tidak akan memakainya.
Ada uang satu juta yang sudah setahun kusimpan di lemariku. Uang LS. Minggu lalu, rasanya aku baru menyebut-nyebut akan memakai uang itu untuk membangun sebuah sekre yang lebih layak. Aku dan Stany sudah merencanakan banyak sekali hal hebat. Nyaris seperti membuat sebuah kamar kosan untuk sekian belas orang tinggali bersama. Dan sekarang, segala rencana itu tinggal tulisan dan gambar di sketchbook-ku belaka. Aku meringis mengingatnya.
Setelah berbalas pesan singkat yang membuat perasaanku tambah kacau, aku kemudian mengirimkan kesedihanku ke beberapa anggota lainnya. Hanya ada dua orang yang membalasnya; Stany dan Bram. Hanya balasan dari Bram lah yang akhirnya membuatku sedikit lebih baik, jujur saja. Dia bilang, dengan anggota yang sedikit, kita tidak akan punya masalah dengan sekre. Toh, sejak anggota baru 2010 masuk, kita lebih sering berkumpul di PSIK, atau bahkan di tempat-tempat makan di luar kampus. Yang membingungkan hanyalah saat kamu disuruh menuliskan di mana lokasi sekre LS sekarang berada, untuk konten Buku Sakti PROKM 2011.
“Sekre Lingkar Sastra di mana? Tulis saja, ‘Hatimu’. Ah, tapi, nanti… apa kata para mahasiswa baru yang berniat mendaftar?” Stany memberiku ide, saat kami pergi ke Simpang Dago tadi pagi. Benar juga. Sekre itu ibaratnya sebuah rumah. Rumah itu apa? Rumah yang sebenarnya adalah, sebuah tempat di mana kamu bisa menemukan segala hal yang kamu suka. Kalau dipikirkan seperti itu, memang pantas kalau aku menuliskan ‘hatimu’ sebagai sekre LS yang baru. Aku menemukan banyak hal yang kusuka, bahkan hal-hal yang belum pernah kuketahui sebelumnya di LS… entah pula dengan orang lain.
Ah… aku masih bingung. Ya Tuhan, kalau memang LS baik dan memang berharga, berilah kekuatan agar ia tetap bertahan di ujung nyawanya yang hampir hilang ini.
Sentimentil? Memang, dan aku benar-benar sulit berpikir apapun seharian ini.
—Hanny Rizky Erwanda, PJS Lingkar Sastra ITB.